Nigeria menempati peringkat ke-38 secara global dalam Global Index tentang Responsible AI (GIRAI) terbaru, naik dari peringkat ke-80 pada 2024 dan menjadi negara dengan peringkat tertinggi di Afrika dengan skor 45,93. Peringkat ini mencerminkan upaya kebijakan yang disengaja, termasuk National Artificial Intelligence Strategy (NAIS), program 3 Million Technical Talent (3MTT), serta kerangka regulasi seperti Nigeria Data Protection Act dan General Application and Implementation Directive (GAID) 2025. Pencapaian ini muncul ketika AI diproyeksikan berkontribusi setara dengan 1,2 triliun dolar AS bagi ekonomi Afrika pada 2030, sekaligus mendorong PDB sebesar 5,6%, dengan investasi korporasi global dalam AI yang hampir tiga kali lipat dari 200 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 581,7 miliar dolar AS pada 2025.
Diterbitkan oleh Global Center on AI Governance (GIRAI), lembaga riset dan kebijakan think tank independen berbasis di Cape Town, peringkat ini menilai 135 negara di lima pilar: inklusi dan keberagaman, etika dan keberlanjutan, tenaga kerja dan keterampilan, kepercayaan dan keamanan, serta penggunaan AI dalam layanan publik. Nigeria mengungguli Mesir dan Kenya setelah naik 42 peringkat secara global dalam dua tahun.
Menurut laporan dari Stanford Institute for Human-Centered AI, 53% populasi dunia telah menggunakan alat-alat generatif AI. Meskipun adopsinya cepat, laporan tersebut menemukan bahwa kapasitas tata kelola publik masih lemah, dengan skor rata-rata GIRAI hanya 35 dari 100 secara global. Bukti implementasi hanya ada di 55% negara yang memiliki kerangka responsible AI, turun menjadi 45% di Global South.
Menurut Kementerian Federal Komunikasi, Inovasi, dan Ekonomi Digital, pemerintah telah mempercepat pekerjaan untuk National Artificial Intelligence Strategy (NAIS), memperluas infrastruktur publik digital, berinvestasi dalam keterampilan digital, mengembangkan kerangka tata kelola untuk teknologi yang sedang berkembang, serta memperkuat kemitraan internasional untuk memastikan AI diterapkan secara bertanggung jawab.
“Pengakuan ini merupakan bukti atas upaya Nigeria yang disengaja untuk membangun ekosistem AI yang inklusif, bertanggung jawab, dan selaras dengan prioritas pembangunan kami,” ujar Menteri Bosun Tijani. “Kami percaya bahwa Afrika tidak hanya harus berpartisipasi dalam revolusi AI, tetapi juga memberikan kontribusi yang berarti dalam membentuk cara teknologi-teknologi ini dikelola dan diterapkan secara global. Fokus kami tetap pada penciptaan infrastruktur, talenta, dan lingkungan kebijakan yang akan memungkinkan AI memberikan nilai nyata bagi masyarakat kami serta mendukung visi Presiden Bola Ahmed Tinubu untuk membangun ekonomi senilai 1 triliun dolar AS.”
Laporan tersebut menyoroti Nigeria sebagai global “Bright Spot” karena menggabungkan pengembangan keterampilan AI dengan perlindungan bagi anak-anak dan kelompok rentan. Indeks tersebut mencatat bahwa Nigeria termasuk dalam sedikit negara Afrika yang berupaya menyiapkan warga secara bersamaan untuk masa depan yang digerakkan AI sekaligus memperkuat perlindungan terhadap risiko yang ditimbulkan oleh teknologi yang sedang berkembang.
National Artificial Intelligence Strategy mewajibkan program literasi AI, pelatihan guru, dan inisiatif penguatan kapasitas yang lebih luas di seluruh negeri. Laporan tersebut menyebut program Federal Government 3 Million Technical Talent (3MTT) untuk menyampaikan pelatihan terstruktur AI dan machine learning melalui model hibrida yang dirancang untuk menjangkau anak muda di seluruh negeri.
Dari sisi regulasi, GIRAI mengakui Nigeria Data Protection Act dan General Application and Implementation Directive (GAID) 2025 karena memperkenalkan perlindungan tambahan untuk data pribadi anak-anak, termasuk persyaratan persetujuan orang tua serta pembatasan keputusan yang hanya didasarkan pada pemrosesan otomatis. Laporan tersebut menyatakan bahwa inisiatif-inisiatif ini menempatkan Nigeria sebagai contoh bagaimana pemerintah dapat mengejar adopsi AI tanpa mengabaikan hak digital dan perlindungan warga.
Pada Januari, negara tersebut naik 31 peringkat dalam Oxford Insights Government AI Readiness Index, bergerak dari peringkat ke-103 menjadi ke-72 secara global, yang mencerminkan perbaikan kesiapan kebijakan dan kapasitas kelembagaan untuk mengadopsi teknologi AI.
Temuan GIRAI juga menunjukkan kemajuan yang lebih luas di negara-negara berkembang. Sejak edisi pertama indeks, negara-negara Global South telah meningkatkan jumlah topik responsible AI yang dicakup oleh kerangka nasional sebesar 83%, dibandingkan dengan 35% di ekonomi maju. Namun, sebagian besar kerangka tersebut masih tidak mengikat, sehingga menonjolkan kesenjangan antara pengembangan kebijakan dan implementasi.
Berapa peringkat Nigeria dalam Global Index tentang Responsible AI?
Nigeria menempati peringkat ke-38 secara global dalam Global Index tentang Responsible AI (GIRAI) terbaru dengan skor 45,93, naik dari peringkat ke-80 pada 2024. Ini menjadikan Nigeria sebagai negara dengan peringkat tertinggi di Afrika, mengungguli Mesir dan Kenya setelah naik 42 peringkat secara global dalam dua tahun.
Kebijakan apa yang berkontribusi pada kenaikan peringkat AI Nigeria?
Menurut Kementerian Federal Komunikasi, Inovasi, dan Ekonomi Digital, Nigeria mempercepat pengerjaan National Artificial Intelligence Strategy (NAIS), memperluas infrastruktur publik digital, berinvestasi dalam keterampilan digital, mengembangkan kerangka tata kelola untuk teknologi yang sedang berkembang, serta memperkuat kemitraan internasional. Pemerintah juga menerapkan program 3 Million Technical Talent (3MTT) dan memperkenalkan Nigeria Data Protection Act serta General Application and Implementation Directive (GAID) 2025 dengan perlindungan tambahan untuk data pribadi anak-anak.
Seberapa besar AI diproyeksikan berkontribusi bagi ekonomi Afrika pada 2030?
AI diproyeksikan berkontribusi setara dengan 1,2 triliun dolar AS bagi ekonomi Afrika pada 2030, sekaligus meningkatkan PDB sebesar 5,6%. Secara global, investasi korporasi dalam AI hampir tiga kali lipat dari 200 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 581,7 miliar dolar AS pada 2025, menurut laporan dari Stanford Institute for Human-Centered AI.
Berita Terkait