Saham Microsoft Corp. (MSFT) mendapat perhatian pada Jumat setelah analis Argus Joseph Bonner memperbarui prospeknya untuk raksasa perangkat lunak tersebut, mempertahankan peringkat 'Buy' sambil menurunkan target harga menjadi $510 dari $620, menurut TheFly. Target yang direvisi itu menyiratkan potensi kenaikan hampir 32% dari level saat ini. Bonner menyebut investasi Microsoft yang berkelanjutan pada kecerdasan buatan dan komputasi awan sebagai pendorong pertumbuhan jangka panjang utama, meski ada kekhawatiran pasar tentang besarnya belanja terkait AI yang telah menekan saham sepanjang tahun lalu. CEO Microsoft Satya Nadella telah menggambarkan AI generatif sebagai pergeseran langka dalam paradigma komputasi dasar, menandakan prioritas strategis perusahaan untuk membangun ekosistem AI terdepan.
Argus Mempertahankan Peringkat Buy Meski Target Harga Diturunkan
Bonner mengatakan Microsoft terus mengejar pertumbuhan jangka panjang melalui investasi berkelanjutan dalam kecerdasan buatan dan komputasi awan, yang ia pandang sebagai pendorong utama ekspansi masa depan perusahaan. Analis tersebut menyoroti penjelasan CEO Satya Nadella yang menyebut AI generatif sebagai pergeseran langka dalam paradigma komputasi dasar.
“Saya sudah banyak memikirkan masa depan perusahaan dalam ekonomi yang digerakkan oleh AI. Transisi ini berbeda dari setiap pergeseran platform sebelumnya,” kata Nadella dalam sebuah unggahan di X bulan lalu. Ia juga menambahkan bahwa prioritas perusahaan seharusnya pada membangun ekosistem terdepan, bukan sekadar model terdepan.
Bonner mengakui bahwa kekhawatiran pasar mengenai skala belanja AI terkait Microsoft membayangi saham perusahaan sepanjang tahun lalu. Namun, analis tersebut mengatakan kekhawatiran itu tidak tercermin pada kinerja keuangan Microsoft, dengan menunjuk pada pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan serta margin laba yang sehat sebagai bukti bahwa strategi investasinya tetap berjalan sesuai rencana.
Analis DA Davidson Soroti Strategi Investasi Microsoft yang Berfokus pada AI
Kepala Riset Teknologi DA Davidson, Gil Luria, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CNBC pekan ini bahwa setiap dolar investasi di Microsoft kini diarahkan ke AI. Pernyataan itu muncul setelah Microsoft melakukan pemutusan sekitar 4.800 karyawan, atau 2,1% dari total tenaga kerja globalnya.
“AI mendorong lebih banyak penjualan perangkat lunak infrastruktur, lalu itu mendorong lebih banyak penjualan Office dengan Copilot. Mereka punya tempat yang jauh lebih baik untuk berinvestasi saat ini. Bisnis gaming tidak memiliki banyak pertumbuhan, jadi mereka mungkin saja memangkas biaya di sana agar bisa mendanai investasi AI,” kata Luria.
Luria menggemakan sentimen serupa seperti Bonner, dengan mengatakan investor mengabaikan kekuatan Microsoft dengan membeli dua skenario bear yang saling bertentangan: satu, bahwa AI akan menggerus permintaan perangkat lunak, dan dua, bahwa perusahaan terlalu berlebihan membelanjakan untuk infrastruktur AI. Ia tidak setuju dengan keduanya, dengan mengatakan bisnis perangkat lunak Microsoft tetap tangguh sementara investasi AI terus mendukung pertumbuhan yang dipercepat.
Kinerja Saham Microsoft dan Sentimen Ritel
Saham Microsoft naik hampir 1% pada pembukaan perdagangan Jumat setelah laporan Argus. Namun, saham MSFT turun 20% year-to-date dan 23% dalam 12 bulan terakhir. Sebagai perbandingan, ETF S&P 500 (SPY) naik 20% dalam 12 bulan terakhir, sementara Invesco QQQ Trust (QQQ) naik 30%.
Sentimen ritel di Stocktwits terkait Microsoft mengarah ke wilayah 'bearish' pada saat penulisan.
FAQ
Target harga berapa yang ditetapkan Argus untuk saham Microsoft?
Analis Argus Joseph Bonner menetapkan target harga $510 untuk saham Microsoft, turun dari target sebelumnya $620, sambil mempertahankan peringkat 'Buy'. Target baru itu menyiratkan potensi kenaikan hampir 32% dari level saat ini.
Mengapa Microsoft melakukan pemutusan 4.800 karyawan?
Analis DA Davidson Gil Luria menyatakan bahwa Microsoft melakukan pemutusan sekitar 4.800 karyawan, atau 2,1% dari total tenaga kerja globalnya, untuk memangkas biaya di area seperti gaming dan mengalihkan dolar investasi ke infrastruktur serta pengembangan perangkat lunak berbasis AI.