KOSPI turun 27,57% selama 23 Hari Perdagangan dari puncak 9.385,59 pada tanggal 19 bulan lalu menjadi 6.797,70, dipicu oleh kurangnya momentum baru setelah reli yang didorong oleh ekspektasi terhadap kebijakan pemerintah baru dan pembelian oleh investor asing. Pasar telah memicu 40 mekanisme sidecar pada 2026, bergantian antara aktivasi beli dan jual. Para ahli menyebut volatilitas ini sebagai norma pasar baru, menyoroti penurunan yang tidak biasa ini terjadi di tengah tren naik—berbeda dengan penurunan akibat krisis di masa lalu pada 1997, 2008, dan 2020.
KOSPI Mencatat Penurunan 27,57% dalam 23 Hari Perdagangan
KOSPI mencapai rekor tertinggi 9.385,59 pada tanggal 19 bulan lalu sebelum jatuh 2.587,89 poin menjadi 6.797,70 dalam 23 Hari Perdagangan. Pada Hari Perdagangan sebelumnya, indeks melonjak ke 7.166,00 saat pembukaan, memicu sidecar beli, sebelum mundur ke level 6.790 pada sore hari ketika tekanan jual menguat.
Volatilitas Pasar Berbeda dari Krisis Keuangan Masa Lalu
Analis pasar menggambarkan penurunan saat ini sebagai pengecualian karena terjadi di tengah tren naik. Penurunan besar pada krisis keuangan Asia 1997, krisis keuangan global 2008, dan pandemi 2020 di masa lalu terjadi setelah penurunan berkepanjangan, yang berujung pada fase penjualan panik terakhir. Investor merayakan KOSPI menembus level 9.000 hanya empat minggu sebelumnya, sehingga koreksi tajam di pasar yang masih meningkat menjadi hal yang tidak biasa.
Analis Memperkirakan Volatilitas Tinggi Berlanjut sebagai Norma Pasar Baru
Kim Hak-gyun, Direktur Pusat Penelitian di Shinyoung Securities, mengidentifikasi volatilitas sebagai kata kunci penentu untuk pasar saham 2026. Ia menjelaskan bahwa munculnya artificial intelligence sebagai industri baru menciptakan ekspektasi dan kekhawatiran yang berlebihan saat pasar menavigasi jalur baru ini. Kim menyatakan volatilitas ini akan menjadi kondisi normal baru bagi saham domestik.
Kang Dae-kwon, CEO Life Asset Management, memperkirakan volatilitas akan terus berlangsung selama hampir setahun. Ia menggambarkan koreksi saat ini sebagai fenomena alami karena pasar membentuk basis baru di sekitar 9.000, bukan level sebelumnya 2.000.
Para Ahli Merekomendasikan Ekspektasi Keuntungan Lebih Rendah dan Mengurangi Leverage
Kim Hak-gyun menekankan kehati-hatian terkait investasi ber-leverage, menyatakan investor sebaiknya beroperasi pada level yang dapat mereka toleransi. Ia mencatat alokasi berlebihan ke aset yang ber-volatilitas tinggi tidak disarankan, meskipun kisah pertumbuhan jangka panjang AI tampak tetap utuh. Kim menambahkan bahwa menjaga posisi yang berkelanjutan sangat penting mengingat proses pertumbuhan yang tidak teratur.
Kang Dae-kwon menyarankan investor menurunkan ekspektasi keuntungan dibandingkan performa puncak tahun sebelumnya. Ia menyatakan strategi respons aktif dengan ekspektasi yang disesuaikan akan diperlukan ke depan.
FAQ
Apa yang menyebabkan saham KOSPI turun 27,57% selama 23 Hari Perdagangan?
KOSPI turun dari 9.385,59 ke 6.797,70 karena kurangnya momentum baru setelah reli yang didorong ekspektasi kebijakan pemerintah baru dan pembelian oleh investor asing. Pasar memicu 40 mekanisme sidecar pada 2026 saat volatilitas menguat.
Bagaimana penurunan saham KOSPI saat ini berbeda dari krisis keuangan masa lalu?
Penurunan saat ini terjadi di tengah tren naik, sehingga menjadi hal yang tidak biasa dibandingkan penurunan pada masa lalu selama krisis keuangan Asia 1997, krisis keuangan global 2008, dan pandemi 2020, yang terjadi setelah penurunan berkepanjangan dan berujung pada fase penjualan panik.
Strategi investasi apa yang direkomendasikan para ahli untuk volatilitas tinggi pada saham Korea?
Para ahli merekomendasikan menurunkan ekspektasi keuntungan, menghindari leverage berlebihan, dan mempertahankan posisi dalam tingkat risiko yang masih dapat ditoleransi. Kim Hak-gyun dari Shinyoung Securities dan Kang Dae-kwon dari Life Asset Management sama-sama menyarankan strategi respons aktif saat volatilitas terus berlanjut.