Google, perusahaan induk Alphabet, mengungkapkan dalam pengajuan Q2 terbaru bahwa pihaknya memiliki saham senilai 6% di SpaceX, yang terdiri dari 80 miliar dolar AS dalam saham yang dikunci serta 14,1 miliar dolar AS dalam saham yang dibatasi untuk tidak dijual hingga Q3 2027. Pengungkapan ini muncul saat saham SpaceX baru-baru ini terkoreksi ke level $100s setelah mencapai puncak $200 bulan lalu menyusul IPO perusahaan yang memecahkan rekor. Google dan perusahaan investasi Fidelity mengucurkan investasi 1 miliar dolar AS ke SpaceX pada 2015, ketika valuasi perusahaan masih 150 kali lebih rendah dari level saat ini, menurut The Wall Street Journal. Persyaratan pengungkapan masa penguncian memicu pengajuan tersebut. Pengungkapan kepemilikan Alphabet menyoroti hubungan strategis yang semakin dalam antara Google dan SpaceX, khususnya untuk infrastruktur AI, sementara SpaceX menghadapi sorotan investor terkait profitabilitas, bukan tontonan peluncuran roket.
Google Memiliki Saham SpaceX Senilai 94,1 Miliar Dolar AS di Bawah Pembatasan Penguncian
Laporan Q2 terbaru Alphabet mengungkapkan bahwa Google memiliki 80 miliar dolar AS dalam saham SpaceX yang tunduk pada pembatasan penguncian jangka pendek, serta tambahan 14,1 miliar dolar AS dalam saham yang dikunci hingga Q3 2027. Gabungan kepemilikan tersebut mewakili kira-kira 6% dari ekuitas SpaceX. Google dan Fidelity berinvestasi bersama 1 miliar dolar AS di SpaceX pada 2015. Dibandingkan valuasi pada putaran pendanaan 2015 tersebut, nilai perusahaan SpaceX telah meningkat 150 kali, menurut laporan.
Google Membayar SpaceX 920 Juta Dolar AS per Bulan untuk Sumber Daya Komputasi AI
Google berkontrak untuk membayar SpaceX 920 juta dolar AS per bulan dari Oktober hingga Juni 2029 guna menyewa sumber daya komputasi AI. Kontrak ini mencakup sekitar 110.000 GPU NVIDIA, CPU, memori, serta infrastruktur komputasi AI skala besar. Jika dihitung selama periode kontrak, total nilai kesepakatan melampaui 30 miliar dolar AS. Alphabet menaikkan panduan belanja modal untuk tahun ini hingga maksimal 205 miliar dolar AS (sekitar 303 triliun won), didorong oleh pertumbuhan divisi cloud. SpaceX membangun pusat data AI besar bernama "Colossus" di Memphis, Tennessee, sekaligus memposisikan diri sebagai mitra infrastruktur penting untuk ekspansi AI Google.
Google dan SpaceX Membahas Kemitraan Pusat Data Berbasis Luar Angkasa
Dua perusahaan tersebut dilaporkan sedang berdiskusi untuk memperluas kemitraan mereka ke proyek-proyek infrastruktur AI masa depan, termasuk pembangunan pusat data berbasis luar angkasa. Konsepnya melibatkan penempatan pusat data di orbit bumi rendah untuk memanfaatkan tenaga surya yang stabil, komunikasi latensi ultra-rendah, dan efisiensi pendinginan yang lebih baik, sehingga mengatasi keterbatasan pusat data di daratan. Meski masih eksperimental, Elon Musk sejak lama mengidentifikasi luar angkasa sebagai tahap berikutnya untuk infrastruktur AI. Google sedang mengeksplorasi kemungkinan ini lewat kolaborasi dengan SpaceX. Analis mencatat bahwa mengingat kemitraan jangka panjang Google dengan SpaceX dan kepemilikan ekuitas 6% tersebut, kemungkinan penjualan saham skala besar tetap rendah meski ada koreksi harga saham baru-baru ini yang dikaitkan dengan aksi ambil untung pasca-IPO dan kekhawatiran valuasi.
FAQ
Berapa besar saham yang dimiliki Google di SpaceX menurut pengajuan Q2?
Google, perusahaan induk Alphabet, mengungkapkan dalam pengajuan Q2 terbaru bahwa pihaknya memiliki saham senilai 6% di SpaceX, yang terdiri dari 80 miliar dolar AS dalam saham yang dikunci dan 14,1 miliar dolar AS dalam saham yang dibatasi dari penjualan hingga Q3 2027.
Berapa yang dibayar Google kepada SpaceX untuk sumber daya komputasi AI?
Google berkontrak untuk membayar SpaceX 920 juta dolar AS per bulan dari Oktober hingga Juni 2029 untuk menyewa sumber daya komputasi AI, termasuk sekitar 110.000 GPU NVIDIA dan infrastruktur terkait. Nilai total kontrak melampaui 30 miliar dolar AS selama periode kesepakatan.
Kemitraan masa depan apa yang sedang didiskusikan Google dan SpaceX?
Dua perusahaan tersebut dilaporkan sedang berdiskusi untuk memperluas kemitraan mereka ke pembangunan pusat data berbasis luar angkasa. Konsepnya melibatkan penempatan pusat data di orbit bumi rendah untuk memanfaatkan tenaga surya, komunikasi latensi ultra-rendah, dan efisiensi pendinginan yang lebih baik.