Ketika Presiden Trump secara resmi mencalonkan Kevin Warsh pada akhir Januari untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, reaksi pasar langsung adalah, "Sang hawk telah tiba." Dolar AS melonjak, imbal hasil Treasury naik, dan aset berisiko—termasuk emas dan kripto—mengalami koreksi tajam dalam satu hari. Namun, hampir dua minggu telah berlalu sejak pencalonan tersebut. Seiring semakin banyak rincian kebijakan dan realitas politik terungkap, logika "pengetatan" awal mulai goyah. Muncul konsensus baru: Warsh mungkin tidak se-hawkish saat ia mengundurkan diri dari Dewan Gubernur The Fed pada 2011. Ia bisa jadi adalah "dove pragmatis" yang berbalut bulu hawk inflasi.
Stigma "Hawkish" yang Berlebihan: Inflasi Adalah Konsekuensi, Bukan Alasan
Pasar melabeli Warsh sebagai hawk terutama karena penolakannya yang tegas terhadap ekspansi neraca jangka panjang The Fed. Namun, Krishna Guha dari Evercore ISI menekankan bahwa sikap keras ini sangat dibesar-besarkan. Filosofi inti Warsh bukanlah penolakan mekanis terhadap pelonggaran moneter; melainkan membedakan sumber inflasi. Analisis dari CICC dan China Minsheng Bank menyoroti bahwa Warsh sangat dipengaruhi oleh pemikiran monetarisme. Ia memandang inflasi sebagai "pilihan"—yakni konsekuensi dari suplai uang yang berlebihan. Pandangan ini sangat kontras dengan ketergantungan The Fed saat ini pada indikator data yang bersifat lagging.
Bagi pasar kripto dan aset berisiko secara umum, poin kuncinya adalah: Warsh percaya tekanan inflasi saat ini diimbangi oleh perubahan struktural di sisi penawaran. Ia berulang kali menekankan bahwa peningkatan produktivitas yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) merupakan "positive supply shock". Artinya, meskipun ekonomi terus tumbuh, inflasi bisa tetap rendah. Dalam kerangka ini, pemangkasan suku bunga bukan lagi konsesi terhadap resesi, melainkan penghargaan atas peningkatan produktivitas. Seorang Ketua The Fed yang percaya "pemangkasan suku bunga tidak akan memicu inflasi" pada dasarnya bersifat pro-siklus dan menguntungkan bagi aset berisiko.
Paradoks "Pemangkasan Suku Bunga dan Pengurangan Neraca": Ketepatan yang Sering Disalahpahami
Inilah aspek paling mudah disalahpahami dari kerangka kebijakan Warsh. Pasar mengasumsikan bahwa "memangkas suku bunga (melonggarkan) sambil memperkecil neraca (mengetatkan)" adalah kontradiktif, sehingga cenderung percaya bahwa pengurangan neraca adalah niat utamanya. Padahal, ini adalah salah kaprah terbesar terhadap pemikiran Warsh.
Menurut analisis mendalam dari Eastmoney dan Securities Times, logika Warsh justru konsisten dan linier:
- Pengurangan neraca bertujuan memulihkan kredibilitas: Warsh percaya bahwa tingginya suku bunga jangka panjang bukan karena suku bunga acuan The Fed terlalu rendah, melainkan karena kekhawatiran pasar atas monetisasi defisit fiskal AS dan kredibilitas dolar. Neraca yang terlalu besar mendistorsi price discovery.
- Pemulihan kredibilitas menciptakan ruang untuk pemangkasan suku bunga: Hanya ketika The Fed secara jelas mengindikasikan berakhirnya intervensi non-konvensional, ekspektasi inflasi akan stabil. Setelah ekspektasi tertambat, suku bunga nominal dapat diturunkan tanpa membuat suku bunga riil menjadi sangat negatif.
- Kesimpulan: Pengurangan neraca bukanlah lawan dari pemangkasan suku bunga—justru menjadi "paspor" untuk pelonggaran.
Dengan demikian, di bawah Warsh, The Fed mungkin akan menjalankan pengurangan neraca secara sangat lambat dan sangat terprediksi (terutama menargetkan MBS, bukan Treasury), sembari secara tegas menurunkan suku bunga. Hal ini berdampak ganda positif bagi pasar aset digital: tekanan ke bawah pada denominator (suku bunga), dan logika permintaan yang menguat sebagai alternatif atas kredibilitas dolar.
Kendala Politik dan Independensi Berbasis Konsensus: Bentuk Otonomi yang Berbeda
Apakah Warsh benar-benar bisa menerapkan kombinasi kebijakan yang tampak ideal ini? Jawabannya ada pada aspek politik. Saat ini, pencalonan Warsh menghadapi resistensi signifikan di Senat. Tidak hanya seluruh Demokrat menolak, bahkan Senator Republik Thom Tillis mengancam akan menolak karena ketidakpuasan atas penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap Powell. Ini berarti Warsh harus tampil sangat moderat dan mengedepankan konsensus dalam sidang, demi mengamankan dukungan bipartisan yang cukup.
Selain itu, The Fed sendiri bukan institusi yang homogen. Di dalam Federal Open Market Committee (FOMC), pendukung Powell dan presiden Fed regional masih sangat waspada terhadap inflasi. Bahkan sebagai Ketua, Warsh hanya memiliki satu suara dari dua belas. Hal ini membuat kemungkinan kebijakan pengetatan agresif di paruh pertama 2026 hampir nol. Sebaliknya, demi membangun kredibilitas internal dan merespons pengawasan Kongres secara eksternal, Warsh kemungkinan akan merealisasikan dua kali pemangkasan suku bunga (total 50 basis poin) yang diharapkan pasar pada paruh kedua 2026, sekaligus menunjukkan kelayakan strategi "pemangkasan suku bunga + pengurangan neraca".
Kesimpulan
Bagi investor kripto di platform Gate, memahami karakter sejati Ketua The Fed sangat krusial. Kevin Warsh bukanlah fundamentalis pasar bebas yang ideologis; ia adalah teknokrat yang sangat pragmatis. Tujuan utamanya adalah memperbaiki apa yang ia anggap sebagai "warisan intervensi berlebihan" The Fed sejak masa krisis. Namun, jalur yang ia pilih bukanlah merekayasa resesi. Sebaliknya, ia ingin keluar dari kebijakan non-konvensional secara bertahap dengan memanfaatkan lonjakan produktivitas yang didorong AI.
The Fed pada 2026 kecil kemungkinan menjadi "hawk penghalang jalan" seperti yang ditakuti pasar. Sebaliknya, institusi ini akan menjadi "dove pivot" yang bergerak lambat, selalu siap memangkas suku bunga. Bagi emas digital dan aset berisiko, momen paling menegangkan mungkin sudah berlalu.


