Mark Cuban Kurangi Kepemilikan Bitcoin: Apakah Narasi Emas Digital Sedang Dievaluasi Ulang?

Diperbarui: 05/22/2026 07:39

Dalam sejarah aset kripto, sedikit istilah yang bergema sedalam—atau memicu perdebatan sebanyak—"emas digital".

Narasi ini mencapai puncaknya antara tahun 2020 hingga 2021. Bank sentral di seluruh dunia membanjiri pasar dengan likuiditas besar-besaran, ekspektasi inflasi melonjak, dan kredibilitas dolar AS mulai goyah. Berkat desain pasokan tetapnya, Bitcoin semakin diadopsi oleh investor institusi sebagai "penyimpan nilai". Saat itu, investor miliarder Mark Cuban secara terbuka menyatakan bahwa Bitcoin adalah "emas yang lebih baik daripada emas".

Namun, lima tahun kemudian, Mark Cuban mengambil kesimpulan yang sangat berbeda. Pada 21 Mei 2026, ia mengonfirmasi dalam sebuah podcast bahwa dirinya telah menjual sekitar 80% kepemilikan Bitcoinnya, dengan alasan utama: "Bitcoin gagal sebagai lindung nilai—emas naik, Bitcoin turun".

Apakah ini sekadar perubahan strategi investasi pribadi, atau menandakan keruntuhan struktural dari narasi "emas digital"?

Pembalikan Sikap yang Terbuka dan Tegas

Pada 21 Mei 2026, Mark Cuban hadir di podcast Front Office Sports "Portfolio Players" dan mengonfirmasi bahwa ia telah menjual sekitar 80% kepemilikan Bitcoinnya. Keputusan ini ia kaitkan dengan ketidakmampuan Bitcoin untuk bertindak sebagai lindung nilai di tengah pelemahan dolar dan gejolak geopolitik. Cuban menyatakan, "Ketika perang Iran memicu kekacauan ini, Bitcoin dianggap sebagai alternatif terbaik terhadap devaluasi mata uang fiat. Saya selalu percaya Bitcoin mengungguli emas. Namun harga emas melonjak, sementara Bitcoin jatuh. Dan setiap kali dolar terdepresiasi, Bitcoin seharusnya naik, tapi ternyata tidak."

Ketidakpuasan utama Cuban berfokus pada dua hal: pertama, saat ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat, harga emas melesat sementara Bitcoin tertinggal. Kedua, dalam situasi pelemahan dolar, Bitcoin gagal mengapresiasi sebagaimana yang diharapkan dan justru tertekan.

Cuban juga mencatat bahwa ia masih cukup optimis terhadap Ethereum, namun menyebut sebagian besar aset kripto lainnya sebagai "sampah".

Garis Waktu Perubahan Pandangan

Sikap Mark Cuban terhadap aset kripto dapat ditelusuri dengan jelas melalui pernyataan publiknya. Berdasarkan laporan, pada awal 2026, portofolio kripto Cuban terdiri dari sekitar 60% Bitcoin, 30% Ethereum, dan 10% aset lain. Sebelumnya ia menyatakan tidak pernah menjual Bitcoin dan meyakini kelangkaannya membuat Bitcoin lebih unggul dari emas. Kini, keyakinan tersebut berbalik arah.

Selama lima tahun, sikap Cuban berubah total. Pada 2021, ia memandang Bitcoin sebagai alat utama melawan devaluasi fiat. Pada 2026, ia menyimpulkan narasi tersebut tidak lagi berlaku.

Respons Pasar

Komentar publik Cuban muncul saat harga Bitcoin terus mendapat tekanan. Per 22 Mei 2026, data pasar Gate menunjukkan Bitcoin diperdagangkan di $77.684,9, turun 0,33% dalam 24 jam dan turun sekitar 22,08% selama setahun terakhir. Kapitalisasi pasar Bitcoin sekitar $1,55 triliun, dengan dominasi pasar sebesar 57,17%.

Aksi jual Cuban menambah sentimen bearish di pasar yang sudah tertekan. Beberapa analis menyebut hal ini dapat memicu investor ritel ikut menjual, sehingga level support jangka pendek kritis di $75.000 menjadi rawan.

Bitcoin vs Emas: Kinerja di 2026

Data Harga Inti

Perbandingan berikut mengacu pada data harga bulanan otoritatif dan laporan publik:

  • Bitcoin: Berdasarkan data pasar Gate, per 22 Mei 2026, harga Bitcoin di $77.684,9. Rekor tertinggi Oktober 2025 adalah $126.080, turun sekitar 38% dari puncaknya. Selama setahun terakhir, Bitcoin turun sekitar 22,08%.
  • Emas: London fix menutup 2025 di sekitar $4.309 per ons. Pada 29 Januari 2026, emas mencapai puncak historis sekitar $5.595 per ons. Setelah itu, harga terkoreksi tajam ke sekitar $4.100 pada akhir Maret, menghapus seluruh kenaikan tahun ini. Rata-rata London fix April sekitar $4.721 per ons, dan harga spot pertengahan Mei mendekati $4.700. Selama setahun terakhir (April 2025 hingga April 2026), emas naik sekitar 46,74%.

Angka-angka ini menyoroti fakta utama: Dalam rentang waktu lebih dari setahun, Bitcoin dan emas memberikan hasil yang sangat berbeda. Emas naik dari sekitar $3.218 per ons pada April 2025 menjadi sekitar $4.721 pada April 2026, sementara Bitcoin turun sekitar 22% pada periode yang sama. Inilah data inti di balik "kekecewaan" Cuban.

Namun, satu data penting jangan diabaikan: Sejak pecahnya konflik AS-Iran pada akhir Februari 2026, Bitcoin justru naik lebih dari 16%, sementara emas turun lebih dari 15%. Skenario "emas naik, Bitcoin turun" yang digambarkan Cuban dapat menghasilkan kesimpulan berlawanan tergantung jendela pengamatan yang dipilih.

Evolusi Rasio BTC/Emas

Rasio Bitcoin/emas adalah metrik utama untuk mengukur kekuatan relatif keduanya. Pada puncak harga Bitcoin di 2025, rasio ini mencapai level tinggi, lalu turun signifikan. Per awal Mei 2026, rasio sekitar 17,4 ons per Bitcoin (kira-kira $77.500 ÷ $4.500 per ons).

Meski terjadi penurunan tajam dari puncaknya, rasio ini masih di atas rata-rata 10 tahun, menunjukkan bahwa dari perspektif historis, keunggulan valuasi Bitcoin atas emas belum sepenuhnya hilang. Ini menjadi kontra argumen penting: Meski narasi "emas digital" mengalami kemunduran, keunggulan relatifnya tetap bertahan dari sisi valuasi jangka panjang.

Dari Mana Asal Narasi "Emas Digital"?

Logika Historis di Balik Narasi

Label "emas digital" untuk Bitcoin muncul sekitar tahun 2013. Saat itu, harga Bitcoin menembus $1.000 untuk pertama kalinya, melonjak lebih dari 70 kali lipat, sementara emas turun lebih dari 20%. Kontras kinerja ini membuat pasar membandingkan Bitcoin dan emas.

Namun, inti narasi "emas digital" bukan hanya kinerja harga—melainkan kemiripan logika pasokan keduanya:

Pertama, kelangkaan. Total pasokan Bitcoin secara permanen dibatasi 21 juta koin oleh algoritma dasarnya, dengan reward blok yang berkurang setidaknya setiap empat tahun. Setelah halving keempat pada April 2024, reward per blok turun menjadi 3,125 BTC. Kurva pasokan yang dapat diprediksi ini mencerminkan kelangkaan geologis emas, membentuk analogi "kelangkaan institusional". Pemerintah AS, dalam perintah eksekutif 6 Maret 2025, secara eksplisit menyebut pasokan tetap dan keamanan Bitcoin sebagai alasan membentuk cadangan strategis.

Kedua, biaya "penambangan". Emas membutuhkan sumber daya besar untuk ekstraksi bawah tanah, sementara Bitcoin juga perlu "ditambang", mengonsumsi listrik dan daya komputasi yang besar—menciptakan biaya fisik yang nyata.

Ketiga, divisibilitas dan transferabilitas. Bitcoin dapat dibagi hingga delapan desimal (1 satoshi) dan ditransfer secara global melalui internet tanpa perantara, memberikan kemudahan lebih dibanding emas fisik.

Fitur-fitur ini menjadi dasar kuat perbandingan. Namun, seperti yang dicatat sejumlah pakar hukum dan keuangan, kelangkaan emas adalah realitas fisik, sementara Bitcoin adalah "kelangkaan jaringan"—bergantung pada komunikasi, rantai pasokan daya komputasi, dan perangkat lunak kritis. Perbedaan fundamental ini semakin terlihat pada kondisi pasar ekstrem.

Apakah Bitcoin Benar-Benar Bertindak sebagai "Emas Digital"?

Menelaah data yang tersedia dan berbagai pandangan menegaskan beberapa poin utama:

Pertama, korelasi Bitcoin dengan aset risiko tradisional jauh lebih tinggi daripada emas. Analisis BlackRock 11 Mei 2026 menunjukkan korelasi emas dengan Bitcoin sekitar 0,10, sementara Bitcoin dengan S&P 500 sekitar 0,19. Artinya, Bitcoin lebih sering berperilaku seperti saham teknologi ber-beta tinggi daripada aset pelindung nilai.

Kedua, dalam berbagai krisis geopolitik, Bitcoin cenderung turun daripada naik. Pada hari berita serangan udara AS dan Israel ke Iran pecah di akhir Februari 2026, Bitcoin jatuh tajam, memicu likuidasi besar-besaran. Emas justru menunjukkan karakteristik aset safe haven klasik. Namun, dari akhir Februari hingga sekarang, Bitcoin justru naik lebih dari 16%—menekankan pentingnya jendela pengamatan.

Ketiga, investor institusi umumnya memperlakukan Bitcoin sebagai "risk trade" bukan "hedge". Aliran ETF spot Bitcoin memperkuat pola ini: arus masuk melonjak seiring meningkatnya selera risiko, bukan saat panik. Jika institusi benar-benar melihat Bitcoin sebagai lindung nilai, permintaan ETF akan naik saat terjadi aksi jual.

Keempat, struktur pasar Bitcoin mendorong volatilitas tinggi. Volume perdagangan derivatif jauh melebihi spot, dan pasar beroperasi 24/7, dengan trader leverage mendominasi partisipasi. Ini membuat Bitcoin sering menjadi aset pertama yang dijual saat krisis—likuidasi paksa berantai, menyebabkan penurunan lebih tajam dibanding kelas aset lain.

Secara keseluruhan, narasi "emas digital" perlu direvisi, bukan ditolak total:

Aspek yang terbantahkan: Dalam krisis geopolitik jangka pendek dan skenario risiko makro, Bitcoin belum menunjukkan fungsi lindung nilai seperti emas. Bitcoin lebih mirip "aset risiko", sering turun bersama saham saat panik.

Aspek yang masih valid: Desain kelangkaan dan desentralisasi Bitcoin memberikan logika penyimpan nilai selama siklus depresiasi mata uang jangka panjang. Data on-chain menunjukkan pasokan yang dipegang investor jangka panjang (setidaknya 155 hari) naik sekitar 200.000 BTC dalam sebulan terakhir, mencapai hampir 16,3 juta BTC—dekat rekor 16,4 juta pada Januari 2024. Selain itu, kepemilikan ETF spot Bitcoin melebihi $100 miliar, menandakan permintaan institusi terhadap BTC sebagai aset alokasi jangka panjang masih kuat.

Mengurai "Kegagalan": Perspektif Makro dan Struktural

Penyebab Makro: Suku Bunga Tinggi Mengikis Premi Safe Haven

Narasi "Bitcoin sebagai emas digital" paling meyakinkan dalam kondisi makro tertentu: suku bunga riil negatif, keraguan terhadap kredibilitas dolar, dan ekspektasi inflasi yang tak terkendali. Pada era suku bunga nol dan quantitative easing tahun 2020–2021, narasi ini diterima luas.

Namun, lanskap makro 2026 sangat berbeda. Pada 19 Mei 2026, yield Treasury AS 30 tahun naik ke sekitar 5,18%, mencapai 5,20% pada 20 Mei—tertinggi sejak 2007. CPI April 2026 naik 3,8% year-over-year, tertinggi sejak Mei 2023; PPI melonjak 6% year-over-year, dengan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022. Harga energi mendorong rebound inflasi, dengan Brent crude rata-rata $102,5 per barel di April, naik sekitar 53% dari tahun sebelumnya. Dalam situasi ini, pasar kini memprediksi peluang kenaikan suku bunga Fed Desember 2026 lebih tinggi daripada penurunan.

Saat suku bunga bebas risiko cukup tinggi, alokasi modal menjadi sederhana: memegang Treasury menghasilkan return stabil sekitar 5%, menghilangkan kebutuhan mengambil risiko pada aset volatil. Ini bukan hanya berlaku untuk Bitcoin—semua "aset risiko" menghadapi tekanan repricing di siklus suku bunga naik.

Penyebab Struktural: Perbedaan Partisipan Pasar dan Jenis Modal

"Institusionalisasi" Bitcoin diharapkan meningkatkan stabilitasnya, namun kenyataannya lebih kompleks. Di satu sisi, ETF spot memang membawa modal alokasi jangka panjang. Namun di sisi lain, pasar derivatif yang sangat leverage masih mendominasi pergerakan harga jangka pendek. Saat krisis muncul, likuidasi paksa di kalangan trader leverage sering mendorong harga Bitcoin turun tajam, menghasilkan perilaku harga yang bertolak belakang dengan "aset safe haven".

Masalah yang lebih dalam adalah korelasi historis Bitcoin dengan likuiditas global (M2) melemah signifikan di 2026. Meski suplai uang terus tumbuh, harga Bitcoin turun tajam dari puncak akhir 2025. Ini menunjukkan likuiditas saja tak lagi cukup untuk mendorong Bitcoin naik—pasar membutuhkan katalis narasi baru.

Pendapat yang Berbeda: Apa yang Diperdebatkan Pasar?

Narasi Safe Haven Sebagian Besar Gagal

Diwakili oleh Mark Cuban dan pendiri Bridgewater Ray Dalio. Dalam wawancara podcast Maret 2026, Dalio menyatakan bahwa Bitcoin tidak dapat menggantikan emas sebagai aset safe haven, dengan alasan: Bitcoin tidak memiliki privasi, transaksi dapat dipantau atau bahkan dikendalikan; Bitcoin sangat terkorelasi dengan saham teknologi, dan investor cenderung menjual Bitcoin pertama kali saat segmen portofolio lain tertekan; pasar Bitcoin relatif kecil dan mudah diatur, berbeda dengan kepemilikan emas secara global.

Dalio juga menekankan bahwa tidak ada bank sentral besar yang memasukkan Bitcoin sebagai aset cadangan resmi. "Cadangan strategis Bitcoin" pemerintah AS yang dibentuk Maret 2025 terbatas pada aset hasil penyitaan kriminal dan perdata—pemerintah tidak aktif membeli Bitcoin baru.

Sinyal Divergensi Menunjukkan Kedewasaan

Kelompok lain berpendapat bahwa "decoupling" jangka pendek Bitcoin dari emas justru menandakan kemunculannya sebagai kelas aset independen. Sejak konflik AS-Iran akhir Februari 2026, Bitcoin naik lebih dari 16%, sementara emas turun lebih dari 15%. Beberapa analis menyebut Bitcoin telah bertransisi dari aset spekulatif "risk appetite" menjadi kelas aset digital yang sah, bukan ditinggalkan demi emas.

Tindakan Industri: Sinyal di Tengah Ketidaksepakatan

Saat Cuban menjual Bitcoin, pelaku industri justru bertindak berbeda:

Pertama, Strategy (sebelumnya MicroStrategy) memegang 818.334 Bitcoin per awal Mei 2026, menambah 145.834 koin tahun ini dengan total investasi sekitar $11 miliar. Perusahaan menyatakan akan terus menjalankan strategi akumulasi agresif.

Kedua, Wells Fargo mengungkapkan dalam laporan 13F Q1 2026 bahwa kepemilikan ETF Bitwise Bitcoin naik sekitar 24%, dan ETF Grayscale Bitcoin Mini Trust naik sekitar 41%.

Ketiga, pasokan yang dipegang holder jangka panjang terus meningkat, mencapai hampir 16,3 juta BTC—dekat rekor historis.

Tindakan ini menunjukkan pasar tidak "meninggalkan Bitcoin", melainkan mengalami perpecahan keyakinan mendalam: trader jangka pendek dan menengah kecewa dengan narasi safe haven, sementara modal alokasi jangka panjang terus membangun posisi.

Kesimpulan

Keputusan Mark Cuban melikuidasi kepemilikan Bitcoinnya merupakan pilihan rasional berdasarkan kerangka investasinya sendiri. Namun, menyamakan hal tersebut dengan "runtuh totalnya narasi emas digital" terlalu menyederhanakan isu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar benar atau salah.

Kenyataannya: Bitcoin memang gagal bertindak sebagai safe haven seperti emas dalam krisis geopolitik jangka pendek. Namun, dalam rentang waktu historis yang lebih panjang, desain kelangkaan dan sifat desentralisasi sebagai penyimpan nilai tetap kokoh.

Saat menilai perbedaan nilai investasi antara Bitcoin dan emas, pilihan jendela pengamatan seringkali lebih menentukan daripada kesimpulan itu sendiri. Seperti yang disorot sejumlah analisis, menggunakan titik awal dan akhir berbeda pada data periode yang sama dapat menghasilkan kesimpulan berlawanan—sejak konflik AS-Iran akhir Februari 2026, Bitcoin naik lebih dari 16%, emas turun lebih dari 15%. Fakta ini mengingatkan investor: satu narasi saja dapat menyesatkan tergantung jangka waktu yang dipilih.

Bagi pelaku pasar kripto, pertanyaan yang lebih penting mungkin bukan "Apakah Bitcoin sama dengan emas?" melainkan "Apa peran sejati Bitcoin dalam lingkungan makro saat ini?" Memahami hal ini membantu menghindari pengejaran narasi secara membabi buta saat hype, dan mencegah keluar panik saat keraguan muncul.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten