JPMorgan Bertaruh pada Pemulihan Korea: Apakah Penurunan 24% KOSPI Merupakan Peluang Beli atau Hanya Reli Semu?

Pasar
Diperbarui: 07/22/2026 09:00

Pada 22 Juli (waktu Beijing), KOSPI ditutup pada level 6.843,48, naik 1,42% dalam sehari. Namun, sepanjang bulan terakhir, indeks ini telah mengalami penurunan kumulatif tajam sebesar 24,92%. Jika dilihat secara lebih luas, sejak mencapai titik tertinggi tahunan pada bulan Juni, KOSPI telah mencatatkan penurunan maksimum (drawdown) hampir 28% hingga 29%. Di tengah gejolak pasar ini, JPMorgan justru mengambil langkah berbeda dengan merilis laporan yang tidak hanya mempertahankan peringkat "overweight" pada saham Korea, tetapi juga menetapkan target 12 bulan di angka 12.500. Kontras yang mencolok ini kembali mengarahkan perhatian investor pada satu pertanyaan utama: Apakah anjloknya saham Korea ini merupakan gejolak tajam dalam pasar bullish, atau justru menjadi awal dari penurunan yang lebih dalam?

Badai Deleveraging: Koreksi yang Dipicu Likuiditas, Bukan Fundamenta

Untuk memahami pandangan optimistis JPMorgan, kita harus terlebih dahulu menganalisis faktor utama di balik penurunan KOSPI kali ini. Dari sisi data, koreksi ini menunjukkan ciri khas "deleveraging" klasik, yang memiliki banyak kemiripan dengan krisis likuiditas saat guncangan COVID-19 pada Maret 2020, bukan resesi neraca seperti yang terjadi pada krisis Lehman 2008.

Indikator utama yang perlu diperhatikan adalah pasar ETF leverage. Data menunjukkan bahwa nilai pasar ETF leverage Korea telah anjlok dari puncaknya di USD 50 miliar menjadi hanya USD 26 miliar baru-baru ini—hampir terpangkas setengahnya. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar telah menyerap gelombang besar aksi jual pasif dalam waktu singkat. Pada saat yang sama, arus keluar dana asing dari saham Korea telah melampaui USD 110 miliar, mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Skala pelarian modal ini, ditambah dengan rasio long/short di hedge fund ekuitas yang menurun dan likuidasi paksa yang mulai berakhir, menjadi pendorong utama penurunan belakangan ini.

Kesimpulan JPMorgan pun menjadi beralasan: Koreksi KOSPI kali ini pada dasarnya adalah unwinding dari crowded trade pasca-bubble AI, sebuah pembersihan pasif atas leverage berlebih, bukan aksi keluar investor secara rasional akibat memburuknya fundamental ekonomi Korea. Aksi jual yang didorong oleh likuiditas seperti ini kerap menciptakan "peluang emas" bagi aset inti yang benar-benar kompetitif.

Proses Deleveraging: Tanda dan Batas Kejenuhan Aksi Jual

Menilai apakah tekanan deleveraging sudah mendekati akhir menjadi kunci untuk mengidentifikasi titik bawah pasar dalam jangka pendek. Meski pasar ETF leverage telah turun tajam ke USD 26 miliar dari level tertingginya, kita tetap perlu mengevaluasi secara cermat risiko eksposur yang tersisa. Penurunan rasio long/short yang masih berlangsung dan volatilitas yang tetap tinggi menunjukkan bahwa hedge fund masih mengurangi selera risiko, artinya aksi jual berbasis volatilitas yang dipicu ketidakpastian makro mungkin belum sepenuhnya berakhir.

Namun, sinyal positif mulai terlihat: Lingkaran umpan balik negatif dari likuidasi paksa mulai terputus. Setelah modal leverage sebagian besar keluar, "inertia" aksi jual pasar melemah secara signifikan. Walaupun KOSPI masih mungkin menguji ulang level terendah sebelumnya dalam jangka pendek, dari perspektif risk-reward, fase terberat dari aksi jual kemungkinan sudah terlewati. Bagi investor menengah hingga panjang, proses deleveraging ini justru menciptakan valuasi yang sangat rendah.

Tiga Pendorong Utama Potensi Kenaikan di Masa Depan

Target 12.500 yang ditetapkan JPMorgan mengindikasikan potensi kenaikan signifikan dari level saat ini. Tercapainya proyeksi ini bergantung pada tiga faktor utama:

Pertama adalah efek limpahan dari belanja modal AI. Sebagai simpul penting dalam rantai pasok semikonduktor global, saham Korea sangat sensitif terhadap siklus investasi infrastruktur AI. Meski pasar baru saja terkoreksi, raksasa teknologi global tidak mengendurkan perlombaan belanja modal di sektor AI. Perusahaan Korea di bidang chip memori dan memori bandwidth tinggi diperkirakan akan diuntungkan dari tren struktural ini, dengan proyeksi laba sektor terkait kemungkinan akan direvisi naik pada paruh kedua tahun ini.

Kedua adalah siklus semikonduktor yang mulai menyentuh dasar dan berbalik pulih. Industri semikonduktor sangat bersifat siklikal. Seiring proses destocking inventori yang mendekati akhir dan permintaan penggantian perangkat dari AI smartphone serta AI PC mulai meningkat, siklus semikonduktor global perlahan keluar dari titik terendahnya. Dengan bobot semikonduktor yang besar di KOSPI, rebound siklikal akan memberikan dukungan langsung terhadap laba indeks.

Terakhir adalah reformasi tata kelola perusahaan di Korea. Peningkatan imbal hasil pemegang saham dan struktur tata kelola menjadi tujuan jangka panjang dari reformasi pasar modal pemerintah Korea. Di tengah pasar yang lemah, saham blue chip undervalued dengan dividen tinggi semakin berpeluang melakukan buyback dan pembatalan saham, sehingga menciptakan batas bawah harga yang kuat. Begitu investor asing melihat diskon struktural Korea mulai menyempit, modal besar yang sebelumnya keluar bisa kembali dengan cepat.

Kesimpulan: Menambatkan Nilai di Tengah Ketidakpastian

Singkatnya, saham Korea saat ini tengah mengalami fase klasik "rasa sakit" akibat kontraksi likuiditas. Meskipun pembalikan arus modal asing secara berkelanjutan membutuhkan kejelasan lebih lanjut terkait arah kebijakan The Fed, valuasi KOSPI saat ini sudah sangat mencerminkan pesimisme makro dan tekanan deleveraging. Sejarah menunjukkan bahwa crash yang dipicu deleveraging—bukan krisis ekonomi—sering diikuti oleh pemulihan valuasi yang tajam.

Bagi investor, memahami esensi penurunan jauh lebih penting ketimbang mencoba menebak level pasar jangka pendek di tengah kepanikan. Alasan investasi jangka panjang pada saham Korea—perannya yang krusial dalam rantai pasok AI global—tetap solid secara fundamental. Seiring tekanan deleveraging perlahan mereda, pasar akan kembali fokus pada potensi kenaikan siklus semikonduktor dan nilai jangka panjang yang tercipta dari reformasi tata kelola. Jalan menuju kebangkitan KOSPI mungkin sudah mulai terbentuk secara perlahan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

T: Apa alasan utama di balik target 12.500 JPMorgan untuk KOSPI?

J: Target ini didasarkan pada dua faktor utama. Pertama, JPMorgan melihat penurunan saat ini sebagai guncangan likuiditas, bukan krisis fundamental, dan memperkirakan mean reversion yang kuat setelah leverage dibersihkan. Kedua, mereka optimistis terhadap dorongan berkelanjutan dari belanja modal AI global ke industri semikonduktor Korea, serta kenaikan valuasi blue chip secara sistematis berkat reformasi tata kelola perusahaan. Baik laba maupun valuasi diperkirakan akan pulih secara bersamaan.

T: Apakah proses deleveraging di saham Korea benar-benar sudah berakhir setelah crash?

J: Belum sepenuhnya, namun fase terberatnya sudah terlewati. Pasar ETF leverage telah turun dari USD 50 miliar ke USD 26 miliar, menandakan sebagian besar tekanan jual pasif sudah keluar. Meski dana aktif seperti hedge fund masih menyesuaikan eksposur risiko, lingkaran spiral negatif dari likuidasi paksa sudah terputus. Aksi jual pasar kini beralih dari "panic-driven" menjadi penyesuaian struktural.

T: Dengan arus keluar dana asing lebih dari USD 110 miliar, apakah investor luar negeri akan kembali?

J: Kunci kembalinya modal asing terletak pada perubahan kebijakan The Fed dan stabilisasi nilai tukar. Sebagai pasar yang sangat berorientasi ekspor, saham Korea sangat sensitif terhadap likuiditas global. Jika dolar AS melemah atau pemerintah Korea meluncurkan reformasi pasar yang lebih agresif, sifat elastis saham Korea yang tinggi bisa memicu kembalinya dana yang sebelumnya keluar secara cepat.

T: Selain semikonduktor, sektor KOSPI apa lagi yang layak dicermati?

J: Selain semikonduktor, jasa perangkat lunak dan infrastruktur data center yang diuntungkan dari perkembangan AI juga patut diperhatikan. Sementara itu, di tengah ekspektasi penurunan suku bunga, blue chip tradisional seperti perbankan dan otomotif dengan hasil dividen tinggi—yang menawarkan karakter defensif kuat dan potensi re-rating valuasi dari reformasi—menjadi pilihan menarik di situasi saat ini.

T: Apa risiko terbesar berinvestasi di saham Korea saat ini?

J: Risiko terbesar adalah "hard landing" ekonomi global. Jika Amerika Serikat mengalami resesi tajam yang tak terduga, ekspor Korea akan sangat terpukul. Meski proses deleveraging berakhir, penurunan laba korporasi yang signifikan bisa menyeret KOSPI turun lebih dalam. Selain itu, risiko geopolitik dan fluktuasi mata uang utama adalah variabel sistemik yang tidak boleh diabaikan saat berinvestasi di saham Korea.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement

Bagikan

sign up guide logosign up guide logo
sign up guide content imgsign up guide content img
Sign Up
Log In