Dari Peace Premium ke War Premium: Bagaimana Ketegangan AS-Iran Mengubah Harga Bitcoin, Minyak, dan Emas

Pasar
Diperbarui: 2026/07/09 06:30

Konflik geopolitik biasanya dipandang sebagai momen emas bagi emas. Ketika bayang-bayang perang muncul, modal safe haven mengalir deras ke logam mulia, mendorong harga naik—sebuah prinsip yang telah mengakar dalam pasar keuangan. Namun, pergerakan pasar pada 9 Juli 2026 menantang kebijaksanaan konvensional ini.

Per 9 Juli (UTC+8), emas spot diperdagangkan di kisaran $4.070 per ons, menandai penurunan harian keempat berturut-turut. Kontrak berjangka emas COMEX turun 1,7% dan ditutup di $4.086,6 per ons. Sementara itu, ketegangan militer AS-Iran meningkat tajam. Pasukan AS melancarkan serangan udara baru ke sekitar 90 target di dalam Iran, sementara Garda Revolusi Iran membalas ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Presiden Trump secara terbuka menyatakan nota kesepahaman AS-Iran "dinyatakan berakhir" dan memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan.

Alih-alih reli, harga emas justru turun. Bitcoin pun gagal mencatatkan breakout mandiri. Per 9 Juli (UTC+8), Bitcoin diperdagangkan di $62.512,1, turun 0,12% dalam 24 jam, namun penurunan kumulatif tujuh harinya mencapai 7,63%, dan penurunan 30 harinya menyentuh 10,73%. Harga ini 33,74% di bawah puncaknya pada Juli 2025 sebesar $126.193,0. Ethereum diperdagangkan di $1.730, turun 1,2% dalam sehari. Indeks Fear & Greed turun dari 28 ke kisaran 20–23, menandakan "ketakutan ekstrem".

Bertolak belakang dengan pelemahan emas dan Bitcoin, harga minyak internasional justru melonjak. Kontrak berjangka minyak mentah WTI ditutup di $73,52 per barel, naik 4,37% dalam sehari. Kontrak berjangka Brent ditutup di $78,02 per barel, melonjak 5,2% dan sempat menembus level $80.

"War premium" tidak mengalir ke emas atau Bitcoin—seluruhnya terserap oleh pasar minyak dan, melalui rantai transmisi yang tersembunyi namun jelas, memberikan tekanan ganda pada aset tanpa imbal hasil maupun aset berisiko.

Selat Hormuz: Titik Cekik Energi Dunia dan Saklar Inflasi

Untuk memahami logika di balik gangguan pasar ini, kita harus kembali ke sumber konflik—Selat Hormuz.

Jalur sempit antara Oman dan Iran ini merupakan rute transit minyak paling vital di dunia. Sekitar 30% perdagangan minyak global melalui laut melewati selat ini, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasokan energi global. Sejak Juli, jalur penting ini menghadapi ancaman terberat sejak pecahnya perang AS-Iran.

Rangkaian peristiwa dimulai ketika tiga kapal komersial di Selat Hormuz dihantam rudal tak dikenal. Komando Pusat AS merespons dengan menyerang lebih dari 80 target di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, jaringan komando dan kontrol, instalasi radar pantai, fasilitas rudal anti-kapal, dan lebih dari 60 kapal cepat Garda Revolusi (IRGC) di dalam dan sekitar selat. Militer AS menyatakan tujuannya untuk "melemahkan kemampuan Iran menyerang pelayaran komersial di jalur perdagangan internasional." Konflik pun cepat meningkat, dengan AS melancarkan serangan lanjutan ke sekitar 90 fasilitas militer Iran.

Respons Iran tak kalah keras. Kepala negosiator Kalibaf menegaskan, "Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali dengan syarat Iran, bukan di bawah ancaman AS." IRGC menargetkan empat pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait dengan rudal dan drone.

Lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz "praktis terhenti." Realitas ini tercermin langsung pada harga minyak—Brent kembali menembus $80 setelah eskalasi, dan WTI mencatat kenaikan harian terbesar dalam lima minggu.

Kenaikan harga minyak tidak pernah sekadar soal minyak. Sebagai pondasi biaya produksi dan transportasi modern, setiap lonjakan harga minyak mentah akan menular sepanjang rantai "biaya energi → biaya produksi → harga akhir", yang pada akhirnya muncul sebagai inflasi dalam indeks harga setiap negara. Saat ekspektasi inflasi memanas, bank sentral dipaksa mengubah sikap kebijakan moneternya.

Ekspektasi Inflasi Naik: Ketakutan Kenaikan Suku Bunga Mengubah Wajah Pasar

Terdapat jalur transmisi yang sudah mapan antara lonjakan harga minyak dan naiknya ekspektasi inflasi.

Menurut American Automobile Association, sebelum perang AS-Iran, rata-rata harga bensin di AS di bawah $3 per galon. Pada Mei, harga melonjak di atas $4,56. Kini, dengan konflik kembali memanas, tekanan kenaikan harga energi kembali merembes ke harga barang konsumsi.

Risalah rapat The Fed bulan Juni yang dirilis pada 9 Juli (UTC+8) memperkuat pandangan hawkish pasar. Risalah menunjukkan bahwa para pejabat The Fed umumnya percaya jika inflasi tetap tinggi tahun ini, kenaikan suku bunga lanjutan akan diperlukan. Beberapa anggota bahkan merasa sudah ada alasan menaikkan suku bunga bulan lalu, dan kini pejabat terbelah rata dalam memandang prospek ekonomi. Risalah secara khusus menyoroti konflik Timur Tengah dan kebijakan tarif sebagai dua risiko inflasi utama.

Lebih menarik lagi, kekhawatiran internal The Fed terhadap "inflasi AI" meningkat pesat. Pada risalah April, "AI" disebut delapan kali, hanya sekali terkait inflasi. Pada Juni, "AI" muncul 20 kali, tujuh di antaranya langsung terkait risiko inflasi. Risalah memperingatkan bahwa investasi masif pada infrastruktur AI kini disejajarkan dengan tarif dan harga minyak sebagai tiga ancaman inflasi teratas The Fed. Ini menandakan tekanan inflasi bukan sekadar gangguan jangka pendek akibat geopolitik, melainkan mulai membentuk tren struktural multi-faktor.

Pasar mencerna sinyal-sinyal ini dengan cepat. Berdasarkan data CME "FedWatch", probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada Juli sebesar 69%, sementara peluang kenaikan kumulatif 25 basis poin naik ke 31%. Pada September, probabilitas kenaikan 25 basis poin mencapai 51,9%, dan kenaikan 50 basis poin di 17%. Pasar uang telah memajukan ekspektasi kenaikan suku bunga berikutnya dari Desember ke Oktober. Pasar obligasi pemerintah global mengalami aksi jual besar—imbal hasil Treasury AS dua tahun mendekati level tertinggi 2026, dan imbal hasil sepuluh tahun sempat menembus 4,6%.

Analis Wall Street veteran sekaligus Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menyimpulkan dengan lugas: "Ketakutan inflasi kembali, dan The Fed sekali lagi menjadi pusat perhatian pasar. The Fed tidak sekadar mengetatkan—bahkan mungkin harus mengetatkan lebih lanjut."

Logika Tekanan Emas: "Kutukan Suku Bunga" pada Aset Tanpa Imbal Hasil

Pada titik ini, rantai logika di balik penurunan harga emas menjadi jelas.

Emas, sebagai aset tanpa imbal hasil, memiliki biaya kepemilikan yang langsung ditentukan oleh suku bunga riil. Ketika ekspektasi inflasi naik dan pasar mulai bertaruh pada kenaikan suku bunga, suku bunga riil ikut naik—biaya peluang memegang emas meningkat, dan modal secara alami mengalir ke aset yang menghasilkan bunga. Inilah mekanisme inti di balik penurunan harga emas yang "berlawanan intuisi" di tengah konflik geopolitik kali ini.

Emas spot pada Rabu sempat menyentuh level terendah sejak 1 Juli di $4.021,70 per ons, lalu rebound tipis ke sekitar $4.070 namun tetap mencatat penurunan empat hari berturut-turut. Perak spot turun ke $58 per ons pada hari itu. Kontrak berjangka emas COMEX ditutup turun 1,7%, dan perak berjangka turun 4,3%.

Kenaikan suku bunga menjadi pendorong utama penurunan harga emas. Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas kehilangan daya tarik saat suku bunga tunai naik. Ini bukan berarti fungsi safe haven emas gagal—hanya saja, kekuatan makro tingkat tinggi, khususnya ekspektasi kebijakan moneter, kini mengalahkan dampak jangka pendek geopolitik.

Paradigma Harga Baru Bitcoin: Dari "Emas Digital" ke "Cermin Suku Bunga"

Situasi Bitcoin bahkan lebih kompleks—tekanan datang dari dua arah.

Di satu sisi, sebagai aset berisiko, Bitcoin sangat sensitif terhadap likuiditas global dan selera risiko. Saat ekspektasi kenaikan suku bunga menguat dan likuiditas mengetat, aset berisiko tertekan. Penurunan Bitcoin 7,63% dalam tujuh hari dan 10,73% dalam 30 hari mencerminkan logika ini secara langsung. Di sisi lain, sebagian investor telah lama memandang Bitcoin sebagai "emas digital" dan lindung nilai inflasi. Jika narasi ini benar, ketakutan inflasi akibat konflik geopolitik seharusnya mendorong harga Bitcoin. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.

Hal ini mengungkap pergeseran struktural dalam logika harga Bitcoin.

Melihat kembali beberapa peristiwa geopolitik sepanjang 2026, respons Bitcoin tampak sangat tidak konsisten: Pada Februari, serangan udara AS dan Israel ke Iran mendorong emas naik sementara Bitcoin turun; pada Mei, negosiasi AS-Iran membuat Bitcoin lebih banyak mengikuti pergerakan saham AS; dan kini, dengan AS melancarkan serangan besar-besaran, Bitcoin kembali gagal mencatatkan breakout mandiri. Tren jelas mulai terlihat: kekuatan penentu harga Bitcoin bergeser dari "geopolitik" ke "likuiditas dolar AS".

Pasar kini semakin memandang guncangan perang sebagai peristiwa suku bunga, bukan sesuatu yang unik untuk kripto. Bitcoin kini lebih erat mengikuti imbal hasil Treasury jangka pendek ketimbang lindung nilai tradisional seperti minyak atau emas. Artinya, saat lonjakan harga minyak mendorong pasar menyesuaikan jalur kenaikan suku bunga, Bitcoin menghadapi tekanan sistemik dari sisi suku bunga, bukan mendapat manfaat dari premi risiko geopolitik.

Analisis CoinDesk menawarkan kerangka penting: Jika Bitcoin bertahan di atas $60.000 meski eskalasi di Hormuz berlanjut sementara emas terus turun, tren keluarnya modal dari lindung nilai tradisional benar adanya, dan Bitcoin sedang diposisikan ulang sebagai aset suku bunga, bukan aset berisiko. Per 9 Juli, Bitcoin berkonsolidasi di kisaran $62.000, dengan rentang perdagangan harian menyempit ke $61.800–$62.100. Level psikologis krusial $60.000 tengah diuji.

Kesimpulan: Akhir Rantai Transmisi

Dari letusan senjata di Selat Hormuz, ke papan harga di SPBU, ke ruang rapat The Fed, hingga ke terminal perdagangan emas dan Bitcoin—setiap mata rantai transmisi ini terkonfirmasi sepenuhnya pada 9 Juli.

Gangguan Selat Hormuz → Guncangan pasokan minyak → Lonjakan harga minyak → Ekspektasi inflasi naik → Ekspektasi kenaikan suku bunga menguat → Tekanan pada aset tanpa imbal hasil (emas) dan aset berisiko (Bitcoin).

Ini bukan rantai logika yang membutuhkan asumsi rumit—seluruhnya telah dikonfirmasi oleh pergerakan harga pasar terbaru. WTI melonjak lebih dari 4% dalam sehari, Brent naik lebih dari 5%. Emas turun empat hari berturut-turut, menembus $4.100. Bitcoin anjlok lebih dari 7% dalam tujuh hari, dan sentimen pasar jatuh ke zona "ketakutan ekstrem". Fenomena pasar yang tampak kontradiktif ini sebenarnya merupakan refleksi serempak dari rantai transmisi yang sama di berbagai kelas aset.

Bagi pelaku pasar kripto, kerangka ini menawarkan penjelasan yang lebih masuk akal ketimbang "perang menguntungkan Bitcoin" atau "arus safe haven". Di tengah eskalasi konflik geopolitik, pertanyaan nyata mungkin bukan lagi di mana rudal berikutnya akan mendarat, melainkan berapa persen probabilitas kenaikan suku bunga The Fed akan naik saat data inflasi berikutnya dirilis.

FAQ

T: Secara tradisional, konflik geopolitik menguntungkan emas. Mengapa kali ini emas justru turun?

Logika inti di balik penurunan harga emas adalah "lonjakan harga minyak → ekspektasi inflasi naik → ekspektasi kenaikan suku bunga menguat → tekanan pada aset tanpa imbal hasil". Sebagai aset tanpa imbal hasil, biaya kepemilikan emas naik seiring kenaikan suku bunga riil. Ketika pasar mulai bertaruh pada kenaikan suku bunga The Fed, modal keluar dari emas, dan efek safe haven geopolitik kalah oleh tekanan kebijakan moneter makro.

T: Apakah fungsi safe haven Bitcoin gagal?

Narasi safe haven Bitcoin sedang mengalami penyesuaian struktural. Berbagai peristiwa geopolitik sepanjang 2026 menunjukkan logika harga Bitcoin telah bergeser dari "barometer geopolitik" menjadi "cermin likuiditas dolar AS". Pasar kini memperlakukan guncangan perang sebagai peristiwa suku bunga, sehingga Bitcoin lebih erat mengikuti imbal hasil Treasury AS ketimbang harga minyak. Ini bukan berarti narasi "emas digital" mati—hanya saja mekanisme harga Bitcoin menjadi lebih matang dan kompleks.

T: Seberapa besar dampak konflik Hormuz terhadap inflasi global?

Sekitar 30% perdagangan minyak global melalui laut melewati Selat Hormuz. Lalu lintas tanker "praktis terhenti", mendorong harga minyak internasional naik—WTI melonjak lebih dari 4% dalam sehari, Brent lebih dari 5%. Kenaikan harga minyak mendorong inflasi baik secara langsung (melalui bobot energi dalam keranjang konsumsi) maupun tidak langsung (dengan menaikkan biaya produksi barang industri dan produk akhir). Risalah rapat The Fed bulan Juni sudah mencantumkan konflik Timur Tengah sebagai salah satu dari tiga risiko inflasi utama.

T: Berapa peluang kenaikan suku bunga The Fed pada 2026?

Per 9 Juli, data CME "FedWatch" menunjukkan pasar memperkirakan peluang kenaikan kumulatif 25 basis poin pada September sebesar 51,9%, dan peluang kenaikan 50 basis poin sebesar 17%. Pasar uang telah memajukan ekspektasi kenaikan pertama dari Desember ke Oktober. Risalah Juni The Fed mengindikasikan dari 19 pejabat, sembilan percaya setidaknya satu kenaikan suku bunga diperlukan tahun ini. Variabel kunci peluang kenaikan suku bunga tetap harga minyak dan data inflasi.

T: Mengapa level $60.000 sangat krusial bagi Bitcoin?

$60.000 saat ini menjadi support teknikal dan psikologis terpenting bagi Bitcoin. Analisis CoinDesk mencatat, jika Bitcoin bertahan di atas $60.000 meski eskalasi di Hormuz berlanjut, ini menandakan pasar sedang memposisikan ulang Bitcoin sebagai aset suku bunga, bukan aset berisiko. Jika menembus level ini, berarti ketahanan sebelumnya mungkin hanya akibat tipisnya volume perdagangan, bukan perubahan struktural. Batas ini akan menentukan arah Bitcoin dalam jangka menengah.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement

Bagikan

sign up guide logosign up guide logo
sign up guide content imgsign up guide content img
Sign Up
Log In